Siapa Aku? Siapa Kamu? Di Mana Kita?



Entah berapa lama aku diam dalam kegelapan. Suara bising selalu terdengar dari luar, tetapi aku tak tahu itu suara apa. Tempat ini gelap dan sempit. Mungkin, hanya bisa muat oleh dua aku. Aku tidak tahu apa yang membatasiku karena gelap ini menggangguku untuk mengenali apa saja yang ada di sekitarku. Saat kuketuk dengan tanganku, pembatas ini tidak terasa keras layaknya besi dan tidak lunak layaknya agar-agar. Aku tidak mengerti ini di mana.
Waktu terus berlalu dan aku masih saja terdiam seperti biasanya dengan dibatasi oleh sesuatu di sekelilingku. Suatu hari tempat ini seperti bergerak dan guncang-guncang cukup keras beberapa saat. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Gempa bumikah? Entah. Aku tidak tahu. Sesuatu yang pasti adalah guncangan itu membuatku pusing.
Guncangan cukup keras itu akhirnya berhenti. Ada secercah cahaya muncul dari atasku. Cahaya itu semakin lama semakin terang dan dari cahaya itu muncul sesuatu. Sesuatu itu adalah aku, tetapi bukan aku karena itu hanya mirip dengan aku. Sesaat setelah aku yang lain itu muncul dan berada si sampingku, aku bertanya padanya.
“Hei, siapa kamu?”, kataku.
“Hah? Aku tidak tahu siapa aku”, jawabnya.
“Lalu, dari mana asalmu?”
“Aku berasal dari semacam tempat gelap lalu ke tempat terang lalu setelah tertidur sebentar hingga akhirnya berakhir di sini.”
“Emmmm….”
“Lalu, di mana kita sekarang?”, lanjutnya.
“Aku juga tidak tahu sebenarnya kita di mana, yang aku tahu hanyalah tempat ini kosong dan di luar tempat ini kadang-kadang sangat berisik”, jawabku.
“Emm… siapa kamu?”, tanyanya penasaran.
“Aku adalah aku. Namun, sepertinya aku hanya tak tahu siapa aku sebenarnya sama sepertimu”, jawabku dengan agak bingung.
“Bagaimana kalau kita saling menamai diri?”, katanya.
“Baik, panggil aku Er. Lalu, bagaimana denganmu?”
“Kalau begitu, panggil aku El”, jawabnya.
“Baiklah! Kalau begitu sudah diputuskan kalau kamu El dan aku Er. Mari kita bersalaman”, kataku girang.
“Oke! Senang berkenalan denganmu Er. Haha”, jawabnya dengan girang juga.
Saat itu kami membicarakan banyak hal kenapa aku memilih nama itu dan kenapa dia memilih namanya. El juga membicarakan mengenai pengalamannya yang singkat di dunia luar yang seba terang benderang. Dunia yang sangat berbeda dengan tempat kami sekarang. Kami juga berbincang mengenai apa yang akan kami lakukan jika kami bisa keluar dari tempat ini.
Suatu saat kami mengalami guncangan yang cukup keras, seperti saat itu, saat aku sendirian, saat belum ada El. Guncangan itu berlangsung sebentar lalu berhenti cukup lama, tetapi guncangan itu terjadi lagi. Guncangan terus saja terjadi cukup lama sekitar dua setengah sampai tiga jam-an. Kurasa ini bukan gempa. Bagaimana gempa berlangsung selama ini? Jika gempa berlansung selama ini, kurasa seluruh dunia akan hancur.
Saat guncangan itu berhenti, tiba-tiba El bertanya padaku.
“Er, guncangan apa sebenarnya tadi? Aku belum pernah merasakan guncangan seperti itu. Guncangan itu lama sekali pula.”
“Emm… aku sebenarnya juga kurang tahu, tetapi dulu aku pernah mengalaminya beberapa kali. Sebelum aku bertemu denganmu pun aku merasakan guncanan ini, walaupun tidak selama ini”, jawabku.
“Benarkah? Apakah guncangan ini pertanda tidak baik?”, tanyanya lagi.
“Kurasa tidak. Nyatanya aku mengalami beberapa guncangan tetapi aku tetap baik-baik saja”, jawabku sambil mengamati tubuhku.
“Oh iya, benar juga”, jawabnya lega.
            Namun, sebenarnya aku juga amat penasaran dengan guncangan ini. Apakah benar-benar bukan pertanda tidak baik? Atau hanya karena aku yang juga ingin suatu pemikiran yang membuatku juga lega. Aku benar-benar tidak tahu, penasaran, sekaligus sedikit takut.
            Kami diam dan menunggu agak lama setelah guncangan dan bercakapan itu berhenti. Sebenarnya, guncangan itu diikuti dengan suara berisik seperti mesin. Namun, kami tidak tahu apakah benar-benar mesin atau apa. Kami tidak bisa memastikannya.
            Guncangan terjadi lagi. Namun kali ini bukan seperti guncangan lagi. Ini seperti kami sedang dilempar beserta dengan apa yang membatasi kami hingga akhirnya kami merasa seperti jatuh dan yang membatasi kami sedikit terbuka. Cahaya tiba-tiba muncul, hampir membutakan pandangan.
            -----
            Setelah beberapa lama, kami menyadari bahwa kami sepertinya berpindah tempat lagi. Pembatas yang selama membatasi kami mulai terbuka dan menampakkan cahaya terang benderang. Setelah cahaya itu mulai bersahabat dengan kami, kami dapat melihat dunia luar yang indah sekali. Kami menyadari bahwa ada sesuatu yang memasuki tubuh kami. Menekuk-nekuk tangan kami sedemikan rupa hingga kami tak dapat menggerakkannya. Kami berjalan dan berlari, saling bergantian posisi. Kadang El di depan dan aku di belakang, kadang aku di depan dan El di belakang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesia-Siaan

Ketakutan Pada Sang Malam