Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana  dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan  yang menjadikannya tiada

Ketakutan Pada Sang Malam

Menelusuri rimba keheningan Menyusuri sungai keputus asaan Menyongsong tatapan sang harapan Berharap gelap kan berganti terang Kini, malam dipenuhi kesedihan Memunculkan bayang-bayang kenangan Menghapuskan kebahagiaan Tak lagi menimbulkan kebahagiaan Kini, malam keterlaluan Tak lagi memunculkanmu Bersama bintang yang bertaburan Ditemani sang rembulan Kini, malam menakutkan Kutakut Kuhindari Kupergi Kutertidur Hingga mentari kan menyinari Membuat hariku bersinar lagi

PENGULANGAN

Sesosok pemuda sedang merenung di tepi jalan yang lumayan ramai, tempat ia biasa menghabiskan waktu. Motor, mobil, sepeda, orang, atau apapun itu yang bisa bergerak sudah pernah melintas di depannya. Ia masih merenung sambil memegangi sepucuk kertas dan sebuah pena. Pena yang tak pernah akan habis, kekal, karena memang tak pernah dipakainya untuk menulis. Tak jarang beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya memberi uang yang tak seberapa karena mengiranya sebagai pengemis, padahal pakaiannya tak menggambarkan bahwa ia adalah pengemis. Uang yang tak sengaja ia dapat biasanya diberikan kepada yang benar-benar pengemis yang juga sering melintas di jalan itu. Jalan di mana pemuda itu merenung kadang begitu tenang, kadang juga begitu ramai. Ia selalu pulang tepat waktu yaitu jam 17.30 WIB lalu mengulang duduk merenung di tepi jalan itu pada hari berikutnya, selalu tepat waktu jam 15.30 WIB. Entah apa pekerjaannya yang sebenarnya, mungkin pelajar atau mungkin juga pekerja kantoran, a...

Kesia-Siaan

Entah siapa namanya… Entah apa yang dipikirkannya… Ia selalu termenung di sana… Tangan kanannya memegangi tangan kirinya… Kadang ia memelukkan tangan kanannya dengan tangan kirinya… Begitu mesra hingga kakinya iri hatinya… Entah siapa itu… Entah apa yang dipakainya itu… Selalu rapi apa yang dipakainya itu… Selalu menunggu di depan gardu… Saat ditanya dikira orang gila orang oleh orang yang terganggu… Ia hanya menjawab orang yang tertanggu itu, “aku hanya menunggu calon istriku yang kabur tahun lalu…”

Cermin x Air

Cermin memantulkan apa yang ada di depannya Begitu juga air Cermin menampakkan seperti apa adanya Air, menampakkan sesuai dengan apa keadaannya

Menghindar Hingga Akhirnya Memutuskan Pergi

"Selama masih ada kamu yang akan merasa terluka bila aku bersama "seseorang", aku memilih untuk sendiri dulu. Aku tidak mau bersenang-senang di atas penderitaanmu" Kalimat itu begitu membekas dan membuatku berpikir cukup lama. Apakah kesalahanku yang tidak bisa membendung rasa? apakah aku salah untuk mencintai? ataukah teorinya itu yang salah, Mengapa dia berpikir aku akan terluka jika dia bersama "seseorang"? yaa mungkin aku akan terluka, sebentar saja. Namun, luka yang sebentar itu terkadang dapat membuat orang semakin cepat menghilangkan rasa. Berandai-andailah, semisal ada seorang temanmu yang terus saja berbicara omong kosong tanpa henti, kamu akan menamparnya sekali saja walaupun itu menyakitinya, tetapi dia pasti akan langsung berhenti dan berpikir "mungkin, aku terlalu banyak bicara". Setiap keputusan atau tindakan mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing. Akhir-akhir ini aku semakin memantapkan keputusan. Aku memutuskan u...

Mentariku

Mentari tak selalu bersinar dari ufuk timur Tak selalu tenggelam di ufuk barat Mentari akan selalu bersinar Dari senyumanmu Akan selalu tenggelam Dalam kesedihan Yang tampak pada wajahmu