Sesosok pemuda sedang merenung di tepi jalan yang lumayan ramai, tempat ia biasa menghabiskan waktu. Motor, mobil, sepeda, orang, atau apapun itu yang bisa bergerak sudah pernah melintas di depannya. Ia masih merenung sambil memegangi sepucuk kertas dan sebuah pena. Pena yang tak pernah akan habis, kekal, karena memang tak pernah dipakainya untuk menulis. Tak jarang beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya memberi uang yang tak seberapa karena mengiranya sebagai pengemis, padahal pakaiannya tak menggambarkan bahwa ia adalah pengemis. Uang yang tak sengaja ia dapat biasanya diberikan kepada yang benar-benar pengemis yang juga sering melintas di jalan itu. Jalan di mana pemuda itu merenung kadang begitu tenang, kadang juga begitu ramai. Ia selalu pulang tepat waktu yaitu jam 17.30 WIB lalu mengulang duduk merenung di tepi jalan itu pada hari berikutnya, selalu tepat waktu jam 15.30 WIB. Entah apa pekerjaannya yang sebenarnya, mungkin pelajar atau mungkin juga pekerja kantoran, a...