PENGULANGAN
Sesosok pemuda sedang merenung di tepi jalan yang
lumayan ramai, tempat ia biasa menghabiskan waktu. Motor, mobil, sepeda, orang,
atau apapun itu yang bisa bergerak sudah pernah melintas di depannya. Ia masih
merenung sambil memegangi sepucuk kertas dan sebuah pena. Pena yang tak pernah
akan habis, kekal, karena memang tak pernah dipakainya untuk menulis. Tak
jarang beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya memberi uang yang tak
seberapa karena mengiranya sebagai pengemis, padahal pakaiannya tak
menggambarkan bahwa ia adalah pengemis. Uang yang tak sengaja ia dapat biasanya
diberikan kepada yang benar-benar pengemis yang juga sering melintas di jalan
itu.
Jalan di mana pemuda itu merenung kadang begitu
tenang, kadang juga begitu ramai. Ia selalu pulang tepat waktu yaitu jam 17.30
WIB lalu mengulang duduk merenung di tepi jalan itu pada hari berikutnya, selalu
tepat waktu jam 15.30 WIB. Entah apa pekerjaannya yang sebenarnya, mungkin
pelajar atau mungkin juga pekerja kantoran, apa pun itu pekerjaannya ia selalu
memakai pakaian yang berbeda tiap hari saat ia merenung di tepi jalan itu.
Pernah suatu hari ia
hampir menulis sesuatu saat ia melihat sepasang kekasih yang bergandengan
tangan setiap waktu saat mereka melintasi jalan itu, yaa, setiap waktu dan amat
sangat lengket bagaikan tangan mereka dilekatkan oleh suatu lem dengan merk terkenal,
tetapi ia hanya hampir menulis.
Pernah ada seorang
perempuan cantik yang sering melewati jalan itu menghampirinya dan menanyakan
beberapa pertanyaan.
“Kenapa kamu selalu
duduk di sini? Apakah kamu menunggu seseorang?” Tanya perempuan itu.
“Iya aku memang selalu
duduk di sini. Aku sering melihatmu berjalan melalui jalan ini juga. Aku memang
menunggu, tetapi aku tidak menunggu seseorang, eh bukan, aku menunggu tapi tak
tahu apa yang kutunggu. Aneh ya?” Jawab pemuda itu.
“Ya, kurasa memang aneh”
perempuan itu menjawab singkat lalu duduk di samping pemuda itu. “Aku pun
sering menunggu, entah apa itu, di sudut kamar atau di sudut kampus. Namun,
yang membuatmu tampak aneh bukan karena kamu menunggu, tetapi karena waktumu
untuk menunggu yang kurasa terlalu lama” Lanjutnya.
“Ya, aku sadar bahwa
sudah terlalu lama aku menunggu yang tidak pasti. Namun, aku suka dengan
kegiatan ini. Banyak hal yang dapat kupelajari dari hanya menunggu di salah
satu sudut jalan ini” Jawabnya sambil sedikit tertunduk.
“Lalu saat kamu
menunggu, apa yang kamu lakukan? Apa kamu hanya berdiam tanpa melakukan apa
pun?”
“Aku selalu membawa
kertas dan sebuah pena”
“Untukmu menulis
sesuatu? Atau untuk menggambar?”
“Aku selalu ingin
menggambar, tetapi aku tidak begitu baik dalam hal itu. Aku memiliki banyak hal
untuk ditulis, tetapi aku tak tahu akan memulainya dari mana”
“Aku dapat membantumu
agar kau dapat menulis. Mungkin itu dapat menjadi permulaan yang baik”
“Bagaimana? Bantu aku!”
“Tulislah kebiasaanmu
menunggu di sini hingga kau bertemu denganku”
Komentar
Posting Komentar